Ada Apa Dengan Mereka?

25 11 2012

Awal tahun baru Islam 1434 H lalu kita dikagetkan dengan bencana kemanusiaan yang sudah kesekian kalinya. Kejadian ini terjadi di Gaza salah satu wilayah Palestina yang merdeka. Diawali dengan penyerangan Israel pada kendaraan yang ditumpangi komandan Izzudin Al Qassam, Muhamad Ja’bary yang mengakibatkan syahidnya (insyaaLlah) komandan tersebut. Serangan balasan dari Hamas pun dilancarkan yang berakibat kalapnya pemerintah Israel dengan mengirim rudal-rudal pembunuhnya. Tak pelak puluhan jiwa di pihak Palestina menjadi korban.

Kejadian ini begitu menyita perhatian dunia. Wilayah ini selalu saja bergolak. Korban yang jatuh pun selalu di pihak Palestina, bangsa yang dijajah oleh Israel. Banyak protes dilakukan atas kekejaman Israel dan memberikan dukungan serta simpati terhadap Palestina. Tida hanya itu saja, bantuan kemanusian berupa bahan makanan, obat-obatan maupun donasi yang berbentuk uang dikumpulkan untuk menolong para warga Gaza.

Di tengah tragedi kemanusiaan dan gegap dukungan baik yang berupa protes maupun bantuan tersebut, masih saja ada beberapa orang yang berkomentar miring terhadap usaha tulus mereka yang membantu tersebut. Mereka datang dari negeri kita juga, tak sedikit pula yang mengaku beragama Islam. Alih-alih mendukung, mereka mempermasalahkan bantuan tersebut tidak efektif, menyalahkan karena lebih mengutamakan negara lain, curiga pertanggungjawabannya, ditunggangi kekuatan politis tertentu dan sebagainya.

Mereka hanya bisa mengoceh dan menjelekkan gerakan kemanusian ke Palestina tersebut. Berbeda jika yang mengalami tragedi tersebut bukan orang Islam, pastilah mereka membela dengan membabi buta. Bahkan saya sempat curiga bahwa mereka itu sebenarnya musuh dalam selimut, orang yang menggembosi Islam dari dalam, dan orang yang menjadi kaki tangan musuh-musuh Islam. Jika hanya sekedar nyeleneh atas pemikiran umum mungkin masih dapat dimaklumi, namun dalam masalah kemanusiaan yang sangat jelas di depan mata mereka masih saja berseberangan.

Saya sendiri setuju bahwa kehadiran mereka, dalam kasus ini, sebenarnya berada di pihak sang penjajah Israel. Saya tidak tahu motif apa yang mereka perankan. Apa hubungannya negara ini dengan Israel. Padahal kita tahu bahwa sejak awal berdiri kita tak punya hubungan diplomatik.  Namun saya kemudian menengok kembali sejarah kelam bangsa ini. Saya mengira sebenarnya negara ini punya hubungan terselubung dengan Yahudi dan Israel. Jadi sangat mungkin jika banyak yang lebih berpihak pada Israel.

Kita paham bahwa berabad-abad kita dijajah oleh Belanda. Sebagian pejabat dan prajurit Belanda yang ditugaskan di Indonesia berdarah Yahudi. Negeri Belanda dan Eropa pada umumnya adalah tempat diaspora orang-orang Yahudi. Saat Perang Dunia II usai mereka berbondong-bondong mendatangi Israel, tanah yang katanya dijanjikan. Yahudi Belanda salah satunya.

Dalam film Zwartboek diceritakan bagaimana seorang wanita keturunan Yahudi yang berusaha menyelamatkan diri dari tentara Nazi yang akan segera menguasai Belanda. Dengan kepintarannya dia mampu menyusup ke lingkungan pasukan Nazi. Dalam salah satu scene, wanita Nazi itu menggunakan perangko yang berasal dari Hindia Belanda (Indonesia) untuk mendekati salah seorang perwira tentara Nazi yang punya hobi filateli.  Perangko tersebut tidak diperoleh oleh si wanita dari orang Indonesia, namun diperoleh dari seorang pengacara /notaris yang dipercaya oleh keluarganya. Kebetulan sang perwira belum memiliki koleksi perangko dari Hindia Belanda tersebut. Akhir cerita, sang wanita tersebut berhasil selamat dan melarikan diri ke tanah baru yaitu Israel. Nama Hindia Belanda (Indonesia) hanya sedikit terbawa dalam alur film tersebut.

Salah satu adegan Rachel Rosenthal atau Ellies de Vries dengan Perwira Ludwig Muntze

Salah satu adegan Rachel Rosenthal atau Ellies de Vries dengan Perwira Ludwig Muntze sedang meneliti perangko

Salah satu adegan Rachel Rosenthal atau Ellies de Vries dengan Perwira Ludwig Muntze di film Zwartboek

Salah satu adegan Rachel Rosenthal atau Ellies de Vries dengan Perwira Ludwig Muntze di film Zwartboek

Uraian di atas tidak bisa menyimpulkan bahwa warga Belanda yang menjadi warga negara Israel punya hubungan dengan Belanda. Sampai suatu saat saya menemukan sebuah link video di internet tentang perkumpulan warga Israel yang berasal dari Belanda, yang memiliki nostalgia dengan Hindia Belanda. Benar, mereka pernah hidup di Indonesia dan bahkan lahir di Indonesia. Perkumpulan yang anggotanya adalah para manula tersebut, sering mengadakan pertemuan untuk bernostalgia dengan suasana Hindia Belanda (Indonesia). Lengkap dengan sajian makanan khas Indonesia seperti nasi goreng, gethuk, sayur lodeh, tahu dan sebagainya. Bahkan mereka menyanyikan lagu berbahasa Belanda yang berisi syair tentang makanan-makanan di Indonesia.

Judul Video Perkumpulan Yahudi Indonesia di Israel

Judul Video Perkumpulan Yahudi Indonesia di Israel

Video Perkumpulan Yahudi Indonesia di Israel - Tempo Dulu

Video Perkumpulan Yahudi Indonesia di Israel – Tempo Dulu

Pertemuan Yahudi Belanda Indonesia di Israel

Pertemuan Yahudi Belanda Indonesia di Israel

Tak jelas apa yang sebenarnya dirasakan dalam hati mereka dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Apakah mereka bangga dan merasa memiliki Indonesia karena telah numpang lahir dan hidup beberapa saat di Indonesia? Yang jelas mereka saat ini atau dulu sama saja, saat ini mereka berada di wilayah Israel yang berarti menjajah Palestina dan dulu mereka berada di wilayah Hindia Belanda yang berarti menjajah Indonesia. Apakah ini suatu kebetulan?

Tak jelas pula apakah kepentingan mereka di Indonesia secara terselubung masih mereka perjuangkan melalui mulut-mulut nyinyir para para pengkhianat pribumi itu. Wallahu a’lam.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: