Tak Semua Yang Kau Dengar Itu Selalu Benar

16 10 2012

Selalu saja ada cerita ketika pulang kampung. Mungkin bagi orang lain suatu kejadian adalah hal yang biasa. Namun, tak ada salahnya jika hal biasa tersebut kita gali hikmahnya sebagaimana yang saya alami.

Tepatnya dua hari yang lalu, sehabis pulang kampung saya mengambil motor di salah satu tempat parkir inap di Jogja. Saya selalu parkir di tempat ini ketika pulang menggunakan bis. Tempatnya terkesan aman dan nyaman dan tentu saja dekat tempat pemberhentian bis. Namun tentunya tidak terlalu sering, karena memang jarang pulang dan belum tentu naik bis. Kalau dihitung sih rata-rata 3 bulan sekali saya pulang dengan naik bis.

Saat itu penjaga sekaligus pemilik tempat parkir dengan ramah mengambilkan motor saya yang ditaruh agak di dalam. Memang pemilik tempat parkir ini sangat ramah. Hal yang menarik ialah dia tumben bertanya pada saya, ” Lho Mas, sepertinya Mas ini tambah kurusan ya.. ? Apa habis sakit?” Aku hanya tersenyum dan malah bertanya, ” O, ya Pak? Enggak kok Pak klo habis sakit. Sehat-sehat saja”

Aku tidak meneruskan percakapan. Segera aku bayar ongkosnya, bilang terima kasih dan pulang ke kos karena memang sudah sore. Dalam perjalanan aku berpikir, kok Bapak pemilik tempat parkir tumben-tumbennya bertanya. Dia bertanya seolah sudah kenal dekat dengan saya.

Sebenarnya saat ini berat badanku  sedang bertambah. Meski tidak terlalu gemuk, tapi terdapat pertambahan dibanding 2 atau 3 bulan yang lalu. Saya yakin Bapak pemilik tempat parkir tidak benar-benar paham kondisi badanku, karena selain kenyataannya badan saya tidak sedang mengurus juga Bapak tersebut tidak mengetahui saya karena intensitas pertemuan yang jarang.  Bahkan kalau boleh dibilang Bapak tersebut berkomentar pada orang yang tidak tepat atau salah orang.

Banyak perkataan orang yang sering mengganggu pikiran kita, dan bahkan mempengaruhi kita. Pertanyaan seperti: kok makin kurus,  kok makin gemuk, kok belum lulus, kok belum nikah kadangkala membuat kita tidak percaya diri. Tidak percaya diri tersebut muncul karena kita merasa dibandingkan dengan suatu kondisi yang ideal bagi orang tersebut. Padahal kondisi ideal tersebut belum tentu tepat untuk kita.

Terus terang saya adalah salah satu korbannya. Ketika bertemu dengan teman lama atau teman yang jarang bertemu mereka kadang bertanya dengan hal-hal di atas.Sebenarnya wajar saja mereka bertanya seperti itu, jika mereka pernah mengenal dekat dengan kita, sekaligus membandingkan dengan kondisi yang dulu atau kondisi yang seharusnya sekarang. Namun, sekali lagi mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan diri kita. Jadi, dapat disimpulkan bahwa komentar mereka itu jauh dari objektif. Apalagi komentar mereka yang tidak terlalu kenal dengan kita.

Pernah suatu ketika saya ditanya oleh dosen yang kebetulan bertemu di suatu masjid, dosen tersebut bertanya:”Kamu kerja di mana sekarang? Saya jawab, “Saya belum lulus Pak.” Beliau bertanya lagi,”Lho kok belum lulus?” Saya jawab, ” Mohon doanya Pak. InsyaaLlah segera.” Tentu saja saya belum lulus, lha memang masih ada satu semester lagi. Jelas di sini, beliau tidak terlalu ingat dengan saya yang baru diajar beliau semester lalu.

Saya teringat dengan kisah seekor katak yang mengikuti lomba panjat menara. Ratusan katak mengikuti lomba panjat menara. Lomba tersebut ditonton oleh masyarakat katak yang tak kalah banyaknya. Selama lomba banyak katak yang berguguran tidak mencapai puncak menara. Hanya satu katak yang mencapai puncak. Ternyata katak yang mencapai puncak tersebut tuli.

Apa hubungannya katak tuli dengan keberhasilan mencapai puncak? Ternyata selama lomba para penonton memberikan pengaruh yang besar kepada peserta. Mereka memberikan komentar-komentar negatif yang membuat lomba terasa begitu berat. Ada yang bilang: nggak mungkin kamu sampai puncak, sudahlan menyerah saja; yang besar aja udah berhenti di awal, kamu nggak mungkin bisa mencapai puncak; kakimu udah berdarah, sebaiknya segera berhenti dan istirahat; menaranya terlalu tinggi untuk seekor katak; dari dulu belum juga ada yang berhasil; dan sebagainya. Walhasil mereka yang mendengar perkataan itu patah semangatnya, sementara katak yang tuli tak mempedulikan perkataan tersebut. Sampailah katak tuli ke puncak.

Begitulah, untuk mencapai suatu tujuan, kita harus fokus dengan usaha kita. Jangan pedulikan kata-kata negatif dari orang lain yang akan mematahkan semangat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: