Si Kurus dan Si Tambun

12 10 2012

Di pinggiran sebuah hutan, tinggallah  sebuah keluarga yang yang terdiri dari sepasang suami istri dan 2 anak laki-lakinya. Mereka hidup rukun dan bahagia di gubuk sederhana selama bertahun-tahun. Anak laki-lakinya telah menginjak usia dewasa. Si sulung adalah pekerja keras. Tiap hari dia selalu membantu ayahnya pergi ke hutan untuk mencari kayu dan makanan ternak. Sedangkan si bungsu sedikit pemalas. Tiap hari kerjaanya hanya bermain, makan dan tidur.

Orang tua mereka semakin lama beranjak renta. Mereka tidak lagi kuat untuk pergi mencari kayu untuk dijual di pasar dan mencari pakan ternak. Akhirnya si sulunglah yang menggantikan tugas mereka. Sedangkan si bungsu enggan membantu.

Si sulung tiap hari bekerja dengan giat untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga . Saking rajinnya seringkali dia pulang pada saat hari sudah malam. Sedangkan si bungsu masih saja tak mau membantu dengan alasan dia  menjaga orang tuanya di rumah. Namun sebenarnya dia memang pemalas. Setiap harinya banyak dihabiskan dengan tidur dan bersantai. Tak pelak lagi badannya pun sekarang begitu tambun. Berbeda dengan si sulung yang tiap hari bekerja keras, dia memiliki badan yang kurus.

Semakin hari si sulung semakin bekerja keras, karena ingin banyak menabung untuk biaya jika orang tuanya sakit. Sebaliknya si bungsu  malah semakin malas. Dia tidak malu makan dari hasil jerih payah kakaknya yang memang tidak mempermasalahkannya.

Suatu saat negeri itu digegerkan oleh kabar bahwa sang raja menginginkan bahwa tiap keluarga yang memiliki anak laki-laki lebih dari satu maka yang sulung harus diserahkan ke kerajaan untuk mengabdi pada raja. Perintah tersebut terdengar biasa saja, namun pada kenyataanya mereka dikorbankan untuk hobi sang raja yang suka mengadu manusia dengan harimau Kebanyakan mereka yang dikirim untuk mengabdi kepada sang raja tidak kembali karena tewas saat bertarung dengan harimau dan menjadi makanan bagi si harimau tersebut. Kabar ini pun akhirnya sampai pada pada keluarga kecil ini.

Suatu hari para prajurit kerajaan sudah sampai di desa mereka untuk mencari pemuda desa. Akhirnya sampailah mereka di rumah keluarga ini. Begitu mengetahui mereka punya 2 orang anak laki-laki prajurit  meminta kepada orang tua untuk mengirimkan si sulung. Orang tua tersebut sangat sedih, karena tidak rela ditinggalkan oleh anak sulung mereka. Namun karena si sulung tidak ada di tempat para prajurit harus menunggu si sulung tiba di rumah.

Saat sore hari datanglah si sulung dari hutan. Mengetahui kabar tersebut dia tentu saja sangat terkejut. Dia lalu membayangkan bahwa dirinya akan tercabik oleh gigi taring dan kuku harimau yang kelaparan milik raja. Dia begitu sedih. Dia meminta agar prajurit tidak membawanya kepada sang raja dan mencari penggantinya di tempat lain. Namun komandan prajurit tidak bisa menerimanya. Si sulung harus segera dibawa menghadap sang raja. Jika tidak maka para prajurit akan membawa seluruh keluarga, termasuk ayah ibu mereka ke penjara karena dianggap membangkang pada sang raja.

Si sulung terus meminta kepada komandan prajurit dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah  bahwa selama ini yang bekerja keras mencari nafkah adalah dirinya. Bahwa yang berjasa pada keluarga selama ini adalah dirinya. Tanpa dirinya maka keluarga tersebut tidak akan bertahan karena tidak ada lagi yang bisa mencari nafkah. Begitulah, berbagai alasan diutarakannya kepada komandan prajurit yang tidak goyah sedikitpun. Si sulung harus tetap dibawa kepada sang raja.

Hal ini membuat si sulung putus asa. Keadaan ini membawanya pada sikap yang tidak terpuji. Dia merasa bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil pada dirinya. Dalam percakapannya dengan orang tua dan adiknya di malam terakhirnya secara tak sadar dia memprotes  Tuhan, kenapa dirinya yang selama ini telah mengalah kepada keluarga untuk mencari nafkah ternyata akan segera berakhir hidupnya menjadi mangsa harimau peliharaaan raja. Dia juga membandingkan dengan adiknya yang selama ini hanya bersantai  tidur di rumah malah luput dari nasib buruk tersebut.

Mendengar hal tersebut, akhirnya si bungsu merasa prihatin. Dia lalu berkata kepada kakaknya,”Baiklah Kak, memang selama ini aku tidak berguna  pada keluarga. Untuk itu biarlah kugantikan posisi Kakak untuk dibawa kepada raja. Ayah, Ibu, ijinkan aku menggantikan Kakak. Semoga pengorbananku dapat menjadi satu-satunya kebaikan yang dapat aku lakukan.” Mendengar hal itu, si sulung merasa gembira. Si sulung menjadi egois dan tak lagi memikirkan nasib adiknya, yang penting dirinya selamat.  Sementara sang orang tua menangis sedih karena tetap saja salah satu anaknya akan meninggalkannya.

Si sulung lalu melapor kepada komandan prajurit bahwa dia akan digantikan oleh adiknya. Komandan prajurit awalnya tidak menyetujui hal tersebut, karena memang titah sang raja mengutamakan untuk membawa anak sulung. Namun dengan berbagai cara si sulung meminta agar adiknya diperbolehkan menggantikan dirinya. Bahkan si sulung membujuk komandan prajurit agar adiknya diperbolehkan menggantikan dirinya dengan alasan adiknya memiliki tubuh yang tambun sehingga harimau raja akan mendapatkan makanan yang lebih baik dibanding jika dia memakan dirinya yang kurus. Alasan tersebut dirasa cukup logis sehingga komandan prajurit setuju. Keesokan harinya dibawalah si bungsu yang tambun tersebut kepada sang raja.

Sesampainya di istana, komandan prajurit menyerahkan si bungsu kepada raja. Raja sangat senang karena korban yang akan dijadikan mangsa harimaunya adalah pemuda yang berbadan gemuk. Pikir raja tentulah harimaunya akan sangat senang mendapatkan daging segar pemuda tambun itu.

Sampailah saat yang ditunggu-tunggu. Dengan disaksikan raja dan para bangsawan lainnya, si bungsu dibawa ke dalam arena tempat dia dan harimau akan bertemu. Si bungsu telah pasrah dan ikhlas menerima apa yang akan terjadi. Dia hanya berdoa agar Tuhan menerima pengorbanannya tersebut. Harapannya adalah agar pengorbanannya akan menghapus keburukan yang dilakukan di masa lalu. Dengan tersenyum dia menatap harimau yang dilepaskan dari sangkar oleh para prajurit.

Namun, apa yang terjadi? Harimau yang sedang kelaparan tersebut tidak langsung menerkam mangsanya seperti biasanya. Dia berputar-putar dan mendekati mangsanya dengan lembut. Lalu dia menjilat-jilat kaki dan tangan si bungsu. Harimau tersebut seakan tidak lagi bernafsu memakan mangsanya. Bahkan, harimau tersebut mengusap-usapkan kepalanya ke tubuh si bungsu dan berbaring manja di kaki si bungsu. Mendapatkan perlakuan harimau tersebut si bungsu pun tak mampu menahan geli.

Raja dan seluruh bangsawan yang menyaksikan sangat terkejut kenapa hal ini terjadi. Raja lalu memanggil komandan prajurit untuk menanyakan siapakah gerangan pemuda tambun tersebut. Komandan prajurit dengan ketakutan menceritakan apa yang telah terjadi. Raja marah kepada komandan prajurit, karena titahnya tidak dilaksanakan dengan baik. Raja lalu menghukum komandan prajurit dengan menjadikannya sebagai mangsa bagi harimaunya. Namun, harimau itu sekali lagi tidak mau memangsa sang komandan prajurit.

Melihat hal itu, Raja sangat bingung. Dia lalu memanggil  penasehat kerajaan, seorang yang dianggap suci di keraajan yang tidak pernah hadir di pertunjukkan tersebut.

Setelah melihat tingkah laku harimau dan berbicara dengan si bungsu yang tambun dan kepala prajurit untuk mengetahui duduk perkaranya, penasehat kerajaan kemudian memberikan  masukan dari sudut pandang mata batinnya. Penasehat berpendapat bahwa keikhlasan si bungsu telah menjadi jalan sehingga harimau tersebut dengan ijin  Tuhan Yang Kuasa tidak lagi mau memangsa manusia. Bahkan, harimau tersebut akan mengabdi dan tunduk pada si bungsu. Penasehat juga meminta kepada raja untuk menghentikan kebiasaannya tersebut.

Akhirnya, kejadian tersebut membuat raja sadar dan menerima usulan penasehatnya. Dia merasa bahwa hobinya  telah menyusahkan rakyatnya.  Dia lalu meminta maaf kepada seluruh rakyat dan menggantinya dengan harta yang setimpal.

Adapun si bungsu, akhirnya dijadikan pegawai istana khusus menangani hewan-hewan peliharaan kerajaan.  Sedangkan si sulung yang telah merasa selamat dari mangsa harimau akhirnya sadar bahwa adiknya orang yang memiliki jiwa yang besar, jiwa yang ikhlas yang tidak hanya memikirkan diri sendiri ternyata telah selamat ditolong Tuhan. Si sulung akhirnya meminta maaf kepada si bungsu karena sikapnya yang egois dan penuh pamrih.

Cerita ini hanyalah khayalan belaka (penulis  pernah membaca cerita ini di suatu majalah yang entah hilang ke mana). Moral cerita ini yang pertama adalah setiap perbuatan harus dilandasi  keikhlasan. Keikhlasan tersebut harus dipelihara sampai akhir hayat, jika tidak maka amalan kita akan lenyap tanpa ridha Tuhan. Jangan menyimpan pamrih di dunia serta menyebut jasa yang telah kita lakukan seolah kita telah berjasa atas amalan kita tersebut. Ingatlah, bahwa setiap yang kita lakukan pastilah atas kehendak dan ijin Allah SWT. Seharusnya kita bersyukur karena kita diperkenankan melakukan kebaikan. Kedua, setiap kesalahan yang dilakukan seorang manusia akan selalu dimaafkan oleh Tuhan, jika manusia benar-benar memohon ampun padaNya dan berharap hanya pada ridhaNya.  Taubat seorang manusia akan dibalas oleh Tuhan dengan ampunan, lancarnya rezeki, kemudahan urusan, keberkahan dan tentunya keridhaanNya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: