Negeriku

10 10 2012

Ini adalah negeri yang sangat besar. Wilayahnya terbentang dari barat sampai timur melewati tiga wilayah waktu. Posisinya diapit oleh dua samudera raya. Sedangkan kedudukannya di tengah dua benua besar. Penduduknya hampir seperempat milyar manusia yang berasal dari ratusan suku bangsa yang memiliki bahasa dan tradisi masing-masing.

Raja Ampat

Ini adalah negeri yang indah. Pulaunya berjumlah ribuan, dipisahkan oleh selat dan laut yang berkilauan. Sungainya mengalir deras dan menganak-anak. Berhulu di ujung mata air yang menyembur dari balik-balik lereng gunung  biru  yang membisu. Berselimutkan hutan perawan yang tak terjamah.

Ini adalah negeri yang kaya. Lautnya menghasilkan ikan, mutiara, dan milyaran biota lainnya. Gunungnya menghasilkan bahan tambang, pasir besi, kayu, dan emas. Sungainya mengaliri sawah-sawah yang menghijau. Bahkan anginnya pun selalu membawa kesejukan.

Itulah cerita negeri ini. Masih banyak cerita-cerita yang menakjubkan tentang negeri ini. Sayangnya, itu hanyalah cerita masa lalu, karena memang semua telah berlalu. Bahkan semuanya hampir tak meninggalkan jejak dan bekas. Kalaupun ada orang yang ditanya mengenai kejayaan saat itu, barangkali pasti mereka semua akan menggeleng tidak tahu.

Negeri yang kaya namun tak lagi berpunya. Semua telah dijual, ditukarkan dengan kesenangan sesaat yang membawa sengsara. Ditukar dengan sesuatu yang tak berharga bahkan menjijikkan.

Papua

Berapa banyak emas yang dikeruk dan diangkut ke negera lain demi untuk mendapatkan  pengakuan menjadi “teman”. Berapa banyak kayu yang dibabat hanya untuk menghidupi cukong-cukong  gendut dan pelit. Berapa banyak pasir yang diangkut untuk sekedar mendapatkan kendaraan dan gaya hidup para pejabat. Ladang-ladang tempat minyak bumi menyembur telah dikapling kepemilikannya oleh para pemodal rakus.

Belum lagi ulah segelintir rakyatnya. Merasa modern dengan gaya hidup mewah dan bebas. Tak lagi malu dengan kondisi sesama yang tak mampu untuk memberikan sesuap nasi pada anak balitanya. Mereka merasa memiliki hak mutlak penggunaan harta yang mereka peroleh sehingga semua yang telah ia peroleh berhak mereka pergunakan semaunya. Tak risih dengan orang lain yang hanya bisa menelan air ludah ketika melihat orang kaya yang membuang makanan yang harganya ratusan ribu begitu saja.

Ironi

Gaya hidup bebas pun  menjadi pilihannya. Pergaulan laki-laki dan perempuan hanya didasari nafsu dan kemewahan. Sehingga semua daya upaya yang dilakukan akhirnya berujung pada hal-hal yang berkaitan dengan memperindah tubuh, pakaian dan kendaraan, yang semuanya dianggap akan menaikkan harga dirinya. Jika tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan kemewahan, mereka berusaha untuk melakukan segala cara agar bisa diakui sebagai orang yang berada meskipun dengan menipu, mencuri, korupsi, menjual diri dan merampok. Tak tahukah bahwa akhirnya yang mereka dapat adalah kerendahan dan kehinaan.

Sumber: Mediaindonesia(dot)com

Memang benar bahwa semua itu tak terlepas dari dampak  perubahan zaman yang sangat cepat. Perubahan dan perkembangan dengan cepat tersebar melalui teknologi yang diciptakan. Manusia begitu dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi. Dengan bantuan teknologi manusia dapat memperoleh segala yang diinginkan. Ketika semua telah terpenuhi manusia akan berusaha melakukan hal-hal yang tidak biasa dalam kehidupannya. Hal-hal tersebut hanya sekedar pemuasan keinginan mereka yang tak terbatas. Bagi mereka teknologi memunculkan ide-ide aneh yang seharusnya tabu untuk dilakukan. Namun karena kepekaan yang semakin sirna dan dorongan keinginan pribadi yang semakin kuat semua yang tabu dilakukan. Tebal muka dan dorongan ego inilah yang menyebabkan segala macam cara akan dilakukan. Semuanya berjalan seakan tak ada aturan yang membatasi, tak ada rasa bersalah dan tak ada rasa malu.

Negeri yang kaya perlahan tak punya. Namun rakyatnya tak pernah sadar. Bahwa negerinya yang kaya semakin merana dan apapun yang tersisa kini bukan lagi miliknya. Rakyatnya hanya memburu keindahan semu dari apa yang telah ditawarkan para kapitalis. Keindahan yang membuat kita mabuk dan limbung. Terjatuh dalam lumpur nista yang mana kita tak bisa keluar darinya. Sementara mulut masih meracau karena pikiran tak pernah berpikir sehat. Tingkah lakunya pun tak terarah dan terkontrol. Sekali-kali gugup  dan latah.

Sadar atau tidak sebenarnya kita masih terjajah. Terjajah oleh nafsu dan terjajah oleh para pemodal jahat. Mereka beri sedikit anggur yang membuat kita tidak waras dan tergila-gila. Mereka beri pujian kepada kita hingga kita merasa hebat dan unggul sehingga membuat kita mengagumi diri sendiri berlebihan. Padahal semua itu hanya isapan jempol untuk membuat kita lemah dan tak berdaya. Tak mampu lagi berpikir dan berkarya. Akibatnya kita akan sangat tergantung dan membutuhkan mereka, menyerahkan segala yang kita punya termasuk harga diri kita.

Entah apa jadinya anak cucu kita nanti bila kita sendiri tak mampu menghentikannya sekarang. Di saat nanti mungkin kita sudah tidak lagi punya tenaga yang kuat untuk sekadar berkata. Sementara anak cucu kita akan menghadapi tantangan yang lebih berat, mungkin nanti kita akan hanya bisa melihat dan merasakan kepedihan. Kepedihan hasil dari apa yang kita tak pernah bisa mengatasinya. Kepedihan karena kita telah menyerah kalah sekarang. Memberikan tampuk kekuasaan kepada orang yang hanya membutuhkan kita untuk diperas. Sekarang ini, apalagi nanti,  kita menjadi bulan-bulanan orang lain yang punya niat jahat. Menjadikan kita kita sebagai alat untuk mencapai tujuannya dan kita tak pernah mendapat jangankan upah dan imbalan bahkan terima kasih pun tak ada. Sekarang, apalagi nanti kita akan dicambuk untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

Pikirkan sebentar lalu segera berbuat. Jika yang kita  takutkan adalah karena pengorbanan saat ini sangat berat, maka pengorbanan dan kepedihan esok akan  lebih menyengsarakan. Jika yang kita takutkan adalah kehilangan kenyamanan hari ini, maka kenyamanan esok setelah kita berjuang adalah jauh lebih manis dan indah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: