Kisah Pemuda Pengelana, Abdurrahman bin Auf dan Dua Orang Anak Korban Pembunuhan

28 07 2012

Berikut ini saya ceritakan kembali ceramah tarawih di salah satu masjid. Semoga bermanfaat.

Diriwayatkan di masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a. terdapat seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan dengan menaiki kuda. Perjalanan yang akan ditempuh pemuda itu cukuplah jauh. Di tengah perjalanan pemuda tersebut berhenti untuk beristirahat. Karena capek, si pemuda tertidur sejenak.

Ketika dia terbangun dari tidurnya, dia tidak mendapati kudanya berada di tempat semula. Akhirnya pemuda tersebut mencari kudanya ke sekeliling tempat dia beristirahat. Ternyata kudanya ditemukan sedang berada di suatu kebun dan sedang memakan tanaman yang tumbuh di kebun itu.

Melihat hal itu, sang pemuda lalu segera menarik tali kekang kudanya untuk diajak keluar dari kebun dan bergegas meninggalkan kebun sebelum si pemilik kebun mengetahuinya.

Pada saat itu, seorang tua pemilik kebun mengetahui apa yang dilakukan pemuda dan kudanya. Melihat pemuda berusaha melarikan diri, dia menjadi marah. Orang tua itu mengambil batu besar dan melemparkannya ke arah kuda yang sedang meninggalkan kebunnya.

Lemparannya telak mengenai kepala kuda, hingga menyebabkan kuda jatuh tersungkur dan mati beberapa saat kemudian. Pemuda pemilik kuda kaget dengan peristiwa itu dan terpancing kemarahannya kepada orang tua. Dia lalu membalas perlakuan pemilik kuda dengan melemparkan kembali pada orang tua tersebut. Orang tua itu tak sempat menghindar sehingga batu tersebut mengenai tubuhnya dan seketika mengantarnya menemui ajal.

Sesaat kemudian si pemuda menyadari kesalahannya. Dia telah membunuh orang tua yang tak ia kenal tersebut. Akhirnya dia mencari tahu siapakah orang itu dan di mana orang tua itu tinggal.

Tidak jauh dari kebun tersebut terdapat suatu kampung. Dia menanyakan kepada penduduk kampung apakah penduduk mengenal orang tua pemilik kebun tersebut. Ternyata orang tua itu tinggal di kampung itu. Si pemuda ditunjukkan di mana orang tua yan g dimaksud tinggal. Sesampai di rumah orang tua pemilik kebun, dia bertemu dengan 2 orang anaknya. Dia lalu menceritakan apa yang sedang terjadi. Dia mengaku bersalah dan memohon maaf atas tindakannya.

Kedua anak pemilik kebun akhirnya melaporkan kepada pemerintah untuk dilakukan peradilan atas pembunuhan ayahnya.

Akhirnya di pengadilan sang qadi memutus si pemuda bersalah karena telah membunuh pemilik kebun dan harus dihukum qishas.

Si pemuda tidak bisa mengelak lagi. Namun sebelum pelaksanaan qishas dilaksanakan dia meminta untuk diberikan waktu 3 hari. Dia mengatakan bahwa waktu 3 hari itu akan dia gunakan untuk kembali ke kampung halamannya. Si pemuda beralasan saat ini dia sedang dititipi harta anak yatim. Harta tersebut hanya dia yang mengetahui tempatnya. Jika dia meninggal karena diqishas dia khawatir harta tersebut tidak tersampaikan kepada anak yatim tersebut.

Setelah mempertimbangkan masak-masak, sang qadi menyetujui asalkan ada orang lain yang bisa menjaminnya. Penjamin tersebut akan menggantikannya jika pemuda tersebut tidak menepati janjinya. Di kota tersebut tidak ada yang di kenal oleh pemuda tersebut. Pemuda tersebut  agak ragu apakah dia bisa melaksanakan keinginannya tersebut.

Akhirnya dia meminta salah seorang pengunjung di pengadilan tersebut untuk menjadi penjaminnya. Orang yang ditunjuk itu dengan tenang menyetujui untuk menjadi penjaminnya. Ternyata orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf. Seorang sahabat Nabi yang terkenal kaya raya.

Singkat cerita, si pemuda pergi menuju ke kampungnya.

Pada hari ketiga, hari di mana si pemuda harus menjalani hukuman qishas, pengadilan sudah dipenuhi oleh masyarakat. Termasuk di dalamnya Abdurrahman bin Auf sang penjamin. Sampai dengan batas waktunya, si pemuda belum juga muncul. Masyarakat menjadi gundah. Beberapa di antaranya menyalahkan dan menyayangkan Abdurrahman bin Auf yang telah menjamin pemuda yang tidak dikenalnya tersebut.

Namun di saat-saat terakhir, si pemuda muncul di pengadilan tersebut. Para pengunjung menjadi lega.

Pada saat akan dilakukan eksekusi, si pemuda ditanya kenapa dia kembali lagi. Padahal dia sudah bisa bebas, lari dari jeratan hukum yang akan mengakhiri hidupnya.

Si pemuda menjawab,”Kalau pun aku ingin lari, pastilah sudah aku lakukan pada saat aku membunuh pemilik kebun waktu itu. Aku tidak melakukannya karena aku yakin Allah pasti mengetahuinya. Sebagai orang Islam aku juga tidak ingin menyusahkan dan mencederai kepercayaan orang yang menjaminku. ”

Sang Qadi dan pengunjung takjub dengan jawaban si pemuda. Kemudian qadi ingin mengetahui kenapa Abdurrahman bin Auf bersedia menjadi penjamin pemuda tersebut, padahal dia tidak mengenal sebelumnya.

Abdurrahman bin Auf menjawab,”Sebagai orang Islam aku ingin membantu saudaraku sesama muslim yang sedang membutuhkan. Tak peduli apakah kukenal atau tidak.”

Melihat percakapan tersebut kedua anak pemilik kebun ikut unjuk bicara,”Baiklah hadirin, saya memaafkan pemuda ini. Mohon qadi tidak melakukan eksekusinya”

Seluruh pengunjung pun terhenyak. Setelah ditanya apa alasannya, dua orang anak tersebut menjawab, “Sebagai sesama muslim aku ingin memperlihatkan bahwa memaafkan sesama muslim itu  lebih baik”.

Akhirnya pemuda tersebut terbebas dari hukuman qishas. Semuanya dilandasi oleh akhlak yang indah yang diperlihatkan oleh si pemuda yang menepati janjinya karena ridha dan ihsan kepada Alllah, Abdurrahman bin Auf yang memiliki hati bersih menolong sesama muslim, serta kedua anak korban yang memaafkan pemuda tersebut.


Aksi

Information

2 responses

30 07 2012
SaniNugraha

hebat.. silahkan berkunjung balik😉

30 07 2012
ki demang

Alhamdulillah.. Terima kasih tlah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: