Jangan Sia-siakan Ramadhan

24 07 2012

Ceramah tarawih malam itu disampaikan oleh seorang ustadz yang dari perawakannya masih cukup muda. Disebutkan oleh pengurus masjid dalam pengumuman sebelumnya beliau bergelar doktor. Gelar itulah yang dapat kuingat, sedangkan nama beliau tidak terlalu aku perhatikan.

Di awal ceramah, seperti biasa seorang penceramah mengingatkan kembali bahwa kita sangat beruntung telah mampu menunaikan ibadah di bulan Ramadhan hingga pada malam ini. Pada malam itu (setahun yang lalu), beliau mengajak untuk kembali mengingat kembali bagaimana kualitas shiyam dan ibadah lainnya. Apakah shiyam kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban, dengan hanya menahan hal-hal yang membatalkan puasa atau lebih dari itu.

Hendaknya seorang muslim tidak hanya sekedar menjalankan puasa hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Untuk meraih dan meningkatkan ketakwaan seorang muslim harus memperhatikan hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Salah satunya adalah menjaga mulut.

Menjaga mulut di sini bukan hanya mencegah mulut dari berkata-kata yang jelek, tidak sopan, dan menyakiti orang lain. Namun lebih dari itu, menjaga mulut juga termasuk mencegah menggunakan mulut untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak ada faedahnya. termasuk di dalamnya adalah bercanda, berolok-olok dan tidak membiasakan untuk berdzikir.

Apakah sampai segitunya sih? Benar kalau berkata yang jelek dan menyakiti orang, jelas kita semua sepakat. Tapi masa sih bercanda dan ngobrol basa-basi itu sesuatu yang tidak diperkenankan. Kan itu hanya hiburan di sela-sela kepenatan hidup. Alangkah garingnya hidup ini tanpa hal itu. Alangkah anehnya diri kita. Alangkah terasingnya kita.

Selama ceramah aku merenung tentang apa yang disampaikan ustad tadi. Semakin panjang lebar uraian sang ustad memberikan ceramah semakin keras aku berpikir.

Ramadhan adalah anugerah. Seorang yang paham akan kemuliaan bulan ini tentunya tak akan gegabah dalam segala tindakannya. Setiap menit harus membawanya untuk lebih dekat kepadaNya. Setiap hembusan nafas hendaknya tidaklah terbuang sia-sia untuk kegiatan yang tak ada nilai tambahnya. Alasan utamanya adalah waktu ini adalah sangat berharga. Apalagi di bulan Ramadhan di mana dikondisikan untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan. Allah telah menghargai waktu Ramadhan dengan pahala yang tak terbatas. Akankah kita yang hanya sebagai hamba yang tak berdaya dan penuh dosa tidak segera sadar dan menyambutnya.

Dalam bulan Ramadhan kita diajarkan bagaimana menghargai waktu. Waktu bukanlah uang seperti yang banyak dikatakan orang (karena nilai waktu tak dapat diukur dalam uang). Waktu adalah ibadah. Waktu ini pemberian Allah. Waktu yang telah dianugerahkan harus kita gunakan untuk mengabdi kepadaNya dalam arti yang luas. Tak ada yangbernilai kelak jika waktu kita habiskan di jalan yang tidak di ridhai Nya. Khusus di bulan Ramadhan, sangatlah tidak bijak kita menyiakan anugerah Allah yang belum tentu diberikan kepada orang lain. Belum tentu pula kita temui di masa yang akan datang.

Jadi, jika sang ustad tadi memberikan himbauan untuk mengurangi pembicaraan yang tidak berguna, sia-sia dan remeh temeh, maka hal itu sangat beralasan.

Bagaimana puasa kita sejauh ini? Masih ada kesempatan tuk memperbaikinya sekarang. InsyaaLlah.

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: