Kecelakaan di Sore Itu

9 05 2012

Sewaktu berjalan kaki untuk membeli makan malam terjadi kecelekaan tepat di jalan yang kulewati. Seorang pengamen yang biasa keliling di warung-warung makan sepanjang jalan Kaliurang tertabrak pengendara motor ketika sang pengamen akan menyeberang jalan. Memang waktu itu lalu lintas sedikit lebih padat. Pinggiran jalan pun penuh dengan kendaraan yang diparkir.

Tepat ketika saya melewati barisan motor yang diparkir di bahu jalan tersebut, terdengar suara keras kemudian disusul dengan suara gesekan motor ke aspal. Saya yang memang tidak melihat langsung kejadian tersebut, karena saya sedang berjalan membelakangi tempat kejadian, langsung berhenti dan berbalik. Terlihat dua orang sedang tergeletak kesakitan. Saya tertegun sejenak dan mencari tempat yang lebih aman dari lalu lalang kendaraan yang berusaha menghindari tempat kejadian.

Lalu lintas menjadi macet. Pecahan gitar terlihat berserakan di tengah jalan. Seketika beberapa tukang parkir menolong korban. Sepeda motor dipinggirkan ke emperan sebuah toko.

Saya hanya melihat karena bingung dengan apa yang harus saya lakukan. Saya ingat anjuran beberapa teman yang berpendapat jika terjadi kecelakaan yang tidak melibatkan kita maka untuk lebih amannya kita tidak usah menolong dan memindahkan korban. Hal itu untuk menghindari urusan yang bisa merepotkan dengan pihak yang berwenang mulai dari menjadi saksi atau bahkan menjadi tersangka. Hmm.. Aneh juga nih. Ya udahlah, akhirnya saya pilih yang aman-aman saja.

Namun, saya merasa penasaran dengan yang terjadi. Akhirnya saya melihat apa yang diderita oleh kedua belah pihak. Ternyata si pengamen mengalami patah tulang lengan bawah. Terlihat dia memegangi  lengan bawahnya yang bengkok dengan wajah meringis kesakitan.

Beberapa pengunjung toko keluar dan mengerumuni korban yang tertunduk kesakitan. Di antaranya ada yang memberikan segelas air mineral. Seorang wanita berjilbab terlihat memeriksa tangan pengamen.

Saya sendiri melihat dari kejauhan karena ngeri dan takut malah membuat korban tidak nyaman karena terlalu banyak dikerumuni orang. Aku berpikir bahwa orang tersebut akan segera dibawa oleh penabrak karena si penabrak tidak melarikan diri. Berarti ada yang bertanggung jawab. Jadi saya tidak perlu lagi membantu. Akhirnya kuputuskan untuk berlalu ke tempat yang akan saya tuju.

Namun dalam perjalanan saya masih terbayang-bayang kejadian tersebut. Saya masih mengkhawatirkan pengamen tersebut apakah segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Kenapa saya tidak menunggu di tempat kejadian sampai dengan korban dibawa dengan aman ke rumah sakit. Pertanyaan ini muncul karena saya sempat melihat si penabrak terlihat bukan tipe mahasiswa yang tajir yang biasa terlihat di kota ini. Dari penampilannya, saya mengira malah dia bukan mahasiswa, atau kalau boleh menebak penabrak tersebut (maaf) bukanlah orang yang berlimpah harta.

Sikap saya yang meninggalkan kejadian tersebut mengusik pikiranku. Seharusnya saya membantu korban dengan mengantarkan dia ke rumah sakit dengan aman dan memastikan korban mendapatkan penanganan yang baik. Saya bisa mengantarnya dengan taksi yang kusewa diiringi dengan penabrak yang memang harus bertanggungjawab. Saya paling tidak bisa memberikan sedikit santunan pada korban, itung-itung untuk tambahan biaya bayar taksi.

Namun, semuanya tidak kulakukan. Demikian dengan orang-orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian tadi. Mereka segera berlalu, hanya wajah mereka saja yang kelihatan bersedih dan merasa kasihan. Lebih dari itu tidak ada. Hanya wanita berjilbab yang memeriksa korban tadi yang masih kelihatan menunggu.

Saya jadi teringat dengan kisah raja dan madu (dalam versi lain raja dan anggur). Kisah ini (juga terdapat di buku Makelar Rezeki karya Inspirator Sukses Mulia – Jamil Azzaini) menceritakan tentang seorang raja yang memerintahkan kepada setiap warganya untuk menyumbangkan sesendok madu untuk dikumpulkan dalam guci yang ditaruh di puncak gunung pada suatu malam yang telah ditentukan. Seorang warga memiliki ide licik untuk tidak menuangkan madu melainkan sesendok air. Dalam pikiran sang warga pasti dia tidak akan ketahuan karena hanya dia yang berpikiran seperti itu. Sesendok air tentu tidak akan terlihat di antara sumbangan madu ribuan warga yang lain. Lagi pula raja tidak akan mengetahui karena dilakukan pada malam yang gelap di puncak gunung.

Ini gambar guci, bukan gambar poci, apalagi panci.. :)

Ini gambar guci, bukan gambar poci, apalagi panci..🙂

Namun apa yang terjadi? Keesokan harinya raja membuka guci yang sudah dipindahkan dari puncak gunung tersebut. Seluruh rakyat yang menyaksikan prosesi tersebut terbelalak karena yang ditemukan di guci tersebut adalah air. Ya, seratus persen air. Tanpa ada madu sedikitpun.

Ternyata semua orang berpikiran sama. Mereka berusaha melanggar titah sang raja karena mereka merasa bahwa yang melakukan hanya dia sendiri. Jika yang melanggar dia sendiri maka tidak akan ada pengaruhnya.

Begitulah ciri masyarakat yang sakit. Mereka cenderung mengabaikan perbuatan baik karena menganggap ada orang lain yang akan melakukannya. Mereka akan melanggar aturan karena beranggapan hanya dia yang melakukan pelanggaran.

Peristiwa yang baru saja saya alami menyadarkan saya bahwa saya pun tidak luput dari perilaku masyarakat yang sakit. Jika saja ternyata si penabrak tidak bisa membawa pengamen ke rumah sakit dengan selamat dan mendapatkan pelayanan yang baik karena dia sendiri tidak memiliki cukup uang, maka korban tersebut tak akan segera tertolong. Tidak ada orang yang peduli dengan segera membawa korban untuk segera mendapatkan pertolongan karena satu-satunya yang bertanggung jawab adalah si penabrak. Atau tidak ada yang segera bertindak membawa korban untuk mendapatkan pertolongan karena beranggapan orang lain ada yang segera melakukannya.

Ya.., begitulah saya. Mungkin juga beberapa di antara kita. Padahal tidak ada jeleknya jika kita langsung berinisiatif untuk segera memberikan pertolongan. Sekecil apapun itu. Sebisa kita. Dalam hati saya masih bercokol perasaan yang menganggap bahwa sikap mulia itu tidak pantas untuk saya lakukan dengan alasan takut pamer.

Ya.., sekarang tinggal perasaan menyesal yang berkepanjangan yang mengganggu pikiranku sehingga mata pun tak bisa terlelap di malam ini.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: