Tentang Rizki Allah

2 05 2012

Hari Jumat minggu lalu, sehabis Ashar, terlihat di HP panggilan tak terjawab sebanyak 6 kali. Kulihat panggilan berasal dari Bapak dan kakak iparku. Beberapa sms  yang masuk segera kubuka, ternyata ada berita duka. Pamanku yang ada di kampung telah dipanggil oleh Allah SWT. Innalilahi wa inna ilaihi rajiun.

Keesokan harinya, aku sempatkan untuk ta’ziah ke rumah duka. Suasana sedih masih menggelayut di sana. Bibi dan anak-anak almarhumserta keluarganya masih terlihat berkumpul. Memang kepergian paman sangat mendadak. Diperkirakan karena serangan jantung.

Setelah mengucapkan bela sungkawa, doa dan dukungan kepada keluarga, saya kemudian sejenak menyempatkan untuk ngobrol hal-hal ringan. Namun, keluarga tampaknya masih belum bisa melupakan saat-saat terakhir bersama almarhum. Mereka akhirnya menceritakan bagaimana saat terakhir almarhum sebelum dipanggil Allah SWT.

Paman adalah sosok yang sederhana. Seorang pensiunan pegawai negeri yang tidak mau berpangku tangan menikmati masa pensiunnya. Beliau sering menghabiskan waktunya di sebidang sawah miliknya, meski penghasilan dari pensiunan telah mencukupi dan penghasilan dari sawah pun tidak terlalu banyak. Mungkin hal itu dijadikan sebagai hiburan di sela waktu luang di masa pensiunnya.

Saat meninggalnya almarhum juga terjadi ketika beliau sedang di sawah. Saat itu beliau sedang mengairi sawah dengan pompa air sewaan. Terjadi percakapan menarik antara salah seorang anak beliau yang menemani ke sawah. Almarhum waktu itu memberikan sejumlah uang kepada anaknya untuk keperluan pemeliharaan tanaman di sawah sembari berkata “Ini yang terakhir ya, pokoknya yang terakhir”, ucapnya sambil tersenyum dan memperlihatkan dompetnya yang kosong.

Tanpa curiga dan berprasangka apa-apa anak paman tadi menerima saja uang yang diberikan. Ah, paling ini kan karena emang sudah tanggal tua, jadi itulah uang yang tersisa di bulan ini. Namun,  hal itu ternyata pertanda bahwa uang tersebut pemberian terakhir dari paman. Itulah rizki terakhir yang beliau nafkahkan pada keluarganya. Peristiwa itu tanda bahwa paman segera menghadap padaNya yang berarti saat terakhir paman mendapatkan rizki dari Allah SWT segera tiba.

Sesaat setelah itu, paman sempat terjatuh dan pingsan di pematang sawah kemudian dibawa ke RS dan meninggal dengan tenang. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga beliau telah menemukan khusnul khatimah, mendapatkan ampunan dan mendapatkan balasan kebaikan atas amalnya di dunia.

Begitulah, Allah SWT telah memberikan pelajaran kepada kita melalui perilaku almarhum. Perkataan almarhum sebelum meninggal seakan memberikan peringatan kepada kita bahwa sebenarnya kita semua hidup hanya dengan rizki dari Allah. Jika jatah rizki kita sudah habis maka kita akan segera dipanggil olehNya. Kita yang masih hidup harus selalu sadar bahwa selama masih diberi kesempatan hidup, selama itu pula kita dilimpahi oleh rizkiNya. Apapun keadaannya, baik susah-senang, miskin-kaya, kekurangan-berlimpah, semuanya tidak terlepas dari limpahan rizki Allah SWT. Selama itu pula kita diwajibkan untuk selalu bersyukur.

Jadi jangan sekali-kali kita merasa bahwa Allah tidak memberikan rizki kepada kita lantaran kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Rizki Allah tidak terbatas pada hal-hal yang hanya kita inginkan.  Jangan pula merasa bahwa kehidupan kita akan segera berakhir ketika kita dalam kesulitan keuangan. Sebelum ajal sampai ke tenggorokan selama itu rizki Allah masih terlimpah. Semoga kita semua dapat mensyukuri rizki Allah SWT. Aamiin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: