Yuk.., Jalan Kaki

23 04 2012

“Ojek, Mas?”, seru seorang pengendara motor dari belakangku. Segera kujawab dengan melambaikan tangan pertanda tidak.  Di lain waktu, ketika saya sedang berjalan kaki di trotoar seorang pengendara motor dari arah berlawanan memutar arah motornya dan menghampiri aku seraya berkata, “Ojek Pak? Kampus? Sepuluh ribu aja”.  Kujawab, “Tidak Pak. Terima kasih’. Bahkan ketika sedang memakai pakaian olahraga pun (yang berarti saya sedang berolahraga meski hanya jalan) saya pernah ditawari jasa tukang ojek.

Begitulah kegigihan para tukang ojek di kota pelajar ini. Hatiku terusik oleh sikap para tukang ojek itu kepada para pejalan kaki. Mungkin baginya setiap pejalan kaki adalah pasar utama bagi tukang ojek. Tidak salah mereka menawarkan jasanya.

Namun dalam hatiku muncul banyak pertanyaan berkaitan dengan tukang ojek misalnya apakah mereka juga menawarkan jasanya pada beberapa “bule” yang lebih sering terlihat berjalan di sepanjang jalan ini? Lalu pertanyaan berlanjut pada mengapa orang-orang pribumi jarang sekali terlihat hilir mudik berjalan di sepanjang jalan ini?

Saya kemudian menduga-duga penyebab orang Indonesi jarang terlihat berjalan kaki, sebagai berikut:

Praduga pertama mengapa orang Indonesia jarang terlihat berjalan kaki karena kita memang malas berjalan kaki. Setidaknya saya pernah merasakannya. Hanya untuk membeli keperluan kecil di tempat yang berjarak sekitar 100 meter saja saya merasa malas sekali untuk berjalan kaki. Toh ada kendaraan yang bersedia mengantarku tanpa mengeluarkan keringat. Lagi pula jika naik motor akan lebih cepat dan tidak menghabiskan bensin yang banyak. Jika ada yang berpikiran seperti saya dan jumlahnya cukup banyak maka yang terjadi adalah seperti saat ini, berkendara motor atau mobil menjadi budaya yang mengakar dibandingkan kebiasaan jalan kaki. Tentu akibatnya telah tampak seperti kemacetan, polusi, pemborosan BBM, dan ketidakpedulian.

Kenapa ketidakpedulian? Yah, begitulah.. Kalau kita sudah nyaman berkendara maka kita akan sulit merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang tidak berkendaraan. Paling tidak bagi mereka yang ke mana-mana bermobil tidak merasakan asap knalpot mobilnya. Semakin banyak yang merasakan kenyamanan berkendaraan akan semakin banyak orang berusaha mempertahankan menikmati kenyamanan itu. Hal ini akan membuat orang berbondong-bondong memiliki kendaraan dan memakainya secara berlebihan (hanya untuk keperluan yang sebenarnya bisa dijangkau dengan jalan kaki).

Trotoar

Salah satu pedagang yang memakai seluruh trotoar, pengunjungnya kebanyakan dari kelas menengah

Praduga kedua penyebab masyarakat Indonesia jarang terlihat berjalan kaki adalah karena trotoarnya kurang memadai. Beberapa kota telah dilengkapi dengan trotoar untuk pejalan kaki. Namun saat ini fungsinya telah banyak berubah. Trotoar menjadi tempat jualan, baik pedagang kaki lima maupun pedagang yang melebarkan tempat usahanya untuk memajang barangnya di trotoar. Mengapa mereka lebih suka menggunakan trotoar untuk berjualan? Barangkali mereka beranggapan bahwa trotoar adalah tempat strategis untuk menjangkau pelanggan yang tersedia secara murah. Tinggal bayar retribusi yang entah masuk ke rekening siapa, semua beres. Namun penggunaan trotoar untuk berjualan juga kadang menguntungkan para pelanggan, karena  mereka merasa lebih senang jika dapat mengakses barang-barang tersebut langsung dari pinggir jalan tanpa harus susah-susah menjauh dari jalan. Nah kalau yang ini sih semua berpangkal pada egoisme (mau enak sendiri dan ga mau susah hehehe..)

Trotoar sering kali juga menjadi lahan parkir. Lagi-lagi pengusaha menjadi sebab utama atas penyalahgunaan trotoar, kali ini untuk tempat parkir. Kendaraan yang parkir di trotoar adalah milik mereka yang sedang berurusan, berbisnis atau bertransaksi dengan pengusaha (pedagang, pemberi jasa, pabrik) yang tidak menyediakan tempat parkir yang memadai. Akibatnya, pejalan kaki tidak nyaman jika harus melewati trotoar tersebut. Selain itu trotoar akan terancam cepat rusak jika dipakai untuk tempat parkir.

Kondisi trotoar yang tidak nyaman juga disebabkan karena tidak adanya perawatan. Banyak trotoar yang berlubang, kotor, ataupun sudah tidak mulus lagi sehingga membahayakan pejalan kaki yang melewatinya. Terkesan pemerintah tidak memperhatikan fasilitas publik yang satu ini.

Praduga ketiga penyebab orang Indonesia jarang  terlihat berjalan kaki karena mereka tidak sadar bahwa berjalan kaki lebih menguntungkan. Berjalan kaki adalah kebiasaan yang menyehatkan. Pada saat berjalan kaki kita melatih jantung sehingga akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita secara keseluruhan. Berjalan kaki juga akan membuat kita lebih hemat. Paling tidak kita akan lebih menghemat biaya BBM (terlepas dari kontroversi sekarang ini yang harus subsidi atau tidak) pada kendaraan kita. Belum lagi keuntungan sosial yang kita dapatkan ketika bisa tersenyum dan menyapa orang yang kita temui, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh pemakai kendaraan bermotor.

Mulai sekarang, jika diperbolehkan saya mengajak untuk membudayakan jalan kaki atau memakai kendaraan yang ramah lingkungan. Kalaupun harus menggunakan kendaraan bermotor pakailah pada saat yang benar-benar mendesak, yang tidak memungkinkan Anda berjalan kaki. Boikot mereka yang memiliki usaha yang menggunakan trotoar baik untuk berjualan ataupun tempat parkir. Pemerintah hendaknya menegakkan ketertiban dengan menindak mereka yang menggunakan trotoar ataupun jalan untuk kepentingan pribadi. Perbaiki trotoar yang rusak lengkapi dengan penerangan dan taman sehingga  pejalan kaki lebih nyaman melewatinya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: