Pelajaran dari Pengamen Bis Malam

23 04 2012

Setiap kali pulang ke rumah orang tua hampir selalu dapat dipastikan aku menggunakan angkutan umum. Hanya variasinya saja yang berbeda. Kadang naik bis, kereta atau dua-duanya bergantian. Setiap kali menggunakan moda tranportasi umum tersebut selalu saja banyak hikmah yang dapat kuambil pelajaran.

Suatu kali aku memilih bis untuk pulang. Biasanya angkutan ini aku pilih ketika waktu pulang sudah agak malam. Alasannya tentunya karena kereta yang biasa aku naiki sudah berangkat dan bis pada malam hari sudah relatif cukup nyaman dan cepat. Sebenarnya kalau boleh memilih tentunya aku lebih suka naik kereta. tapi apa daya hal itu tidak memungkinkan lagi karena waktunya yang tidak tepat.

Aku bergegas menitipkan motorku. Setelah menerima karcis penitipan aku menuju halte di mana bis sering menaik-turunkan penumpang. Menurut Bapak yang punya penitipan motor, bus jurusan Surabaya yang akan aku naiki ini hanya berhenti untuk menaikkan penumpang di halte ini  setelah jam 07.30 malam sampai pagi sekitar jam 05.00. Di luar jam itu, untuk naik bis jurusan Surabaya harus pergi ke terminal bis. Aku merasa beruntung karena waktu itu sudah lewat jam delapan malam. Aku tidak usah jauh-jauh ke terminal untuk naik bis.

Akhirnya tidak seberapa lama, bis yang aku tunggu datang. Beberapa penumpang yang menunggu di halte itu, segera naik dan menempati tempat duduk yang masih tersisa. Aku mendapatkan tempat duduk agak belakang di bagian aisle (seperti naik pesawat aja hehe..) yang artinya tentunya tempat dudukku bukanlah tempat yang berdekatan dengan jendela. Bis yang datang kali ini memang lumayan cukup banyak penumpangnya. Entah karena malam liburan, atau memang karena tiap malam seperti ini.

Sebenarnya aku lebih suka dapat bangku sebelah kiri yang terdiri dari 2 kursi yang dekat jendela. Dengan duduk dekat jendela maka aku bisa menyandarkan kepalaku ketika kantuk sudah mulai menyergap. Namun kali ini aku tidak mendaptkannya. Oya, tentunya ada konsekuensi ketika kita duduk di dekat aisle. Salah satunya adalah kemungkinan terganggunya oleh penumpang yang lewat ataupun terpaksa berdiri. Juga kemungkinan terganggu oleh para pengamen atau penjaja makanan yang lalu lalang.

Beberapa menit setelah bis berangkat, seorang pengamen mulai beraksi. Kali ini sang pengamen seorang anak perempuan berusia sekitar 14 tahun. Tanpa teman dia mulai menyanyikan lagu-lagunya dengan iringan gitar yang dia mainkan. Suara khas seorang anak remaja mulai mendayu dengan lagu-lagu hits saat ini. Satu per satu lagu dia nyanyikan. Mungkin sampai sekitar 4 lagu telah dia selesaikan. Kini saatnya dia mulai keliling untuk meminta kemurahan hati para penumpang untuk membagikan sekedar recehan uang.

Pengamen

Kalau ini foto pengamen di sebuah metro mini di Jakarta, sengaja saya tampilkan hanya untuk ilustrasi saja. Pengamen yang di tulisan ini tidak sempat saya ambil gambarnya.

Dimulai dari depan dia menyodorkan bekas bungkus permen kepada para penumpang. Kuperhatikan beberapa penumpang memberikan “bunga-bunga sosial”nya. Namun yang paling banyak cuma memberikan tanda dengan tangannya bahwa dia tidak memberikan recehnya. Ketika mendekat ke tempat duduk di depanku seorang penumpang memberikan uang sekedarnya. Terlihat pengamen itu sangat senang sekali. Mulutnya serta merta mengucapkan “Alhamdulillah.. Terima kasih Bapak..” Disertai dengan tatapan hormatnya. Seketika aku merasakan ucapan syukur pengamen itu sangat tulus.

Karena tergerak oleh sikapnya akhirnya aku juga merogoh saku dan memberikan lima ratus perak padanya. Sama juga. Dia juga langsung mengucap syukur Alhamdulillah dan berterima kasih. Aku jadi salah tingkah. Hanya dengan uang lima ratus perak saja, pengamen itu begitu bersyukur. Mengucapkan syukurnya pada yang Kuasa dan berterima kasih pada orang yang menjadi perantara rizkinya. Tidak hanya itu aku juga sedikit merinding ketika dia mengucapkan syukur pada Allah dengan ucapan yang terdengar sangat tulus tersebut. Tentunya sebagai manusia biasa aku juga senang ketika “pemberianku” yang hanya beberapa rupiah saja membuat dia senang.

Akhirnya, pengamen tadi membuatku kembali merenung dalam sisa perjalananku. Kita saja akan senang ketika orang lain senang atas pemberian kita. Padahal dalam hal ini kita bukanlah apa-apa. Kita hanyalah sebagai perantara rezeki bagi pengamen tersebut, uang itu memang mungkin adalah hak mereka. Kita bisa merasakan kebahagiaan ketika orang yang kita beri tersebut juga merasa senang dengan pemeberian kita. Beda lagi ketika mereka bersikap sebaliknya. Dia tidak mengucapkan terima kasih, bermuka masam atau bahkan ngedumel karena yang kita berikan hanya sedikit. Bahkan ucapan terima kasih yang tak tulus pun dapat kita rasakan.

Kembali lagi, jika kita saja merasa senang ketika orang yang kita beri senang, bagaimana dengan Allah SWT. Allah SWT adalah pemilik mutlak segalanya telah berfirman yang artinya Jika kita bersyukur atas pemberian nikmat Allah  maka Allah akan menambah nikmat tersebut.  Kenapa sikap pengamen tersebut tidak kita pakai ketika kita mendapatkan nikmat dari Allah SWT?  Kenapa akhlak yang bagus dengan senang atas karunia Allah tidak kita perlihatkan? Bukan maksudnya untuk menyenangkan Allah, tapi itulah hal yang sepantasnya kita lakukan. Padahal kalau kita bersyukur maka Allah tidak memiliki keterbatasan dalam menentukan tambahannya, tidak seperti kita yang hanya bisa senang melihat pengamen yang senang atas pemberian kita. Kita seringnya malah menganggap karunia Allah sesuatu yang biasa. Kita lupa bersyukur. Bahkan kita sering merasa selalu kekurangan. Tidak menghargai karunianya. Seringkali kita merasa Allah demikian pelit dalam memberikan nikmatnya. Kita lupakan karunia yang sangat besar karena kita lebih sering membandingkan karunia Allah terhadap orang lain.

Ya Allah, nikmat-nikmat Mu ternyata cukup banyak yang aku dustakan. Ampuni kami, Ya Allah…


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: