Ketulusan Pramuniaga

23 04 2012

“Coba yang ini Mas,” sela seorang pramuniaga sebuah toko batik di sebuah mall sambil menyodorkan sebuah baju lengan panjang. Aku lihat sekilas baju tersebut, coraknya bukan yang aku cari. Lagi-lagi aku mengenrnyitkan dahiku. Kenapa di kota yang terkenal batiknya sulit aku menemukan batik yang kusukai. Hmm… tapi mungkin saja karena aku yang memang mempersulit diri dengan pilihan-pilihanku.

Ini merupakan baju ke 6 yang disodorkan mbak pramuniaga. Mungkin dari tadi dia juga memperhatikan roman mukaku yang sedikit kecewa ketika baju-baju yang dibawakannya tidak cocok. “Nanti ada kok Mas, corak ini tapi warnanya berbeda,” katanya meyakinkanku.Memang ada yang cocok coraknya namun ukurannya terlalu besar atau warnanya yang kurang cocok. Namun si mbak tadi tanpa henti menawarkan baju-baju yang lain sembari berusaha untuk mengerti apa yang kubutuhkan. Dengan sigapnya dia berlari ke gerai lainnya (yang masih satu kepemilikan) untuk mencari baju yang mungkin cocok untukku. Sekali kembali dia langsung membawa 3-4 potong pakaian. Berat hati rasanya untuk tidak membelinya setelah melihat semangat menawarkan yang menggebu-gebu. Namun, bagaimana lagi. Akan lebih sayang jika hanya karena kasihan kemudian aku membeli barang yang tak aku butuhkan karena akhirnya barang tersebut tak akan terpakai. Mubazir.

Batik. Ilustrasi . Sumber: http://infopublik.org/index.php?page=foto&alb=59 setelah diedit

Sebelum si mbak tersebut menawarkan lagi, akhirnya aku putuskan untuk mencari ke toko lain. Aku sempat meminta maaf dan berterima kasih sebelum meninggalkan toko tersebut. Terlihat kekecewaan dari pramuniaga tersebut meski dia memaksa untuk tersenyum.

Di toko lain, akhirnya kudapatkan baju yang kucari. Sama juga, penjaga toko ini juga terlihat bersemangat menawarkan baju dan menanyakan baju yang dibutuhkan para pengunjung. Bedanya tampilan penjaga toko ini lebih trendy, dan kukira dialah yang memiliki toko tersebut. Setelah mencoba dan yakin akan membeli barang tersebut, aku menanyakan harganya. Terjadilah tawar menawar yang cukup alot. Sampai akhirnya penjaga toko tersebut menelpon seseorang untuk menanyakan harga yang aku tawarkan.

Iseng-iseng aku tanya kepada siapa dia menelpon. “Bos, saya Mas”, sahutnya. “Untuk model yang begini  harus tanya ke Bos dulu”, lanjutnya. “Ah, Mbak kan Bosnya juga”, jawabku. “Bukan Mas, aku cuman kerja di sini, Bosnya ada di toko lain. Oya.. harga akhirnya sekian (menyebut harga yang lebih tinggi sedikit dari yang kutawarkan), Mas. Itu udah paling murah. Kemarin-kemarin enggak boleh harga segitu,” jelasnya. Okelah, deal. Toh tidak terlalu jauh dari yang kutawar.

Terlihat sang pramuniaga senang sekali. Tidak tahu apakah karena untungnya cukup banyak atau hanya sekedar senang karena paling tidak dagannya laku. Namun menurutku mungkin yang benar karena alasan terakhir. Sebab dari tadi beberapa pengunjung yang memang tidak banyak hanya sekedar melihat, mencoba dan tidak jadi membeli. Di mall yang memang termasuk sepi tersebut mungkin perlu usaha keras agar laku dan ketika laku maka hal itu merupakan kesenangan tersendiri. Mungkin dalam sehari itu mereka hanya menjual sedikit barang saja. Bagi seorang pramuniaga hal itu berarti dia bisa memasarkan barang-barangnya. Mungkin juga hal itu berarti dia akan mendapatkan bonus dari bosnya.

Sembari membungkus baju tersebut aku ngobrol dengan mereka tentang asal dari batik-batik ini. Dengan antusias dia menjawab pertanyaanku. Dia sempat bertanya di mana aku bekerja. Kujawab singkat bahwa aku bekerja di Pemerintahan. Berbagai sanjungan meluncur dari pramuniaga tersebut yang mengatakan alangkah beruntungnya bekerja di kantor pemerintah. Kemudian dia membandingkan dengan dirinya yang bekerja sampai dengan jam 9 malam nanti yang kalau dihitung hampir 12 jam sehari. Namun hal itu tidak menyurutkannya untuk bersyukur. Hal itu tidak hanya terdengaar seperti yang diucapkan, namun juga terlihat dari matanya yang selalu ceria.

Tanpa menunggu penjelasannya darinya aku menduga pastilah penghasilan mereka jauh dari penghasilanku. Yang menjadi perhatianku adalah kenapa aku dan mungkin beberapa rekan kerjaku yang kurang memiliki semangat, antusiasme dan keceriaan dalam bekerja dan melayani para klien ataupun masyarakat sebagaiamana pramuniaga tersebut melakukan pekerjaannya. Padahal jelas dari penghasilan dan kenyamanan kerja sangat jauh. Aku salut dengan orang-orang yang benar-benar bekerja dengan segala kemampuan dan kesempatan yang ada hanya demi menyambung kehidupan. Mereka benar-benar mendapatkan uang mereka dari jerih payah dan tetesan keringat mereka, bandingkan dengan beberapa oknum PNS yang hanya bersantai di kantor dan tetap menuntut gaji tiap bulan. Terlepas dari pendidikan dan ketrampilan yang mereka miliki, banyak dari mereka yang menunjukkan sikap yang positif. Melakukan pekerjaan dengan baik sebagaimana mestinya.Bahkan masih tersenyum dengan apa yang mereka lakukan dan mereka capai, meskipun hasil hanya sedikit.

Tentunya masih banyak lagi profesi di luar sana yang tidak kalah beratnya. Profesi yang memaksa orang untuk mengorbankan kenyamanan, gengsi, dan kecukupan. Mereka bekerja hanya untuk hidup sekedarnya. Tidak untuk berlebihan. Para kuli, tukang becak, sopir, penjaja makanan keliling dan asongan, pedagang kecil, dan lain-lain. Profesi ini halal secara moral dan agama serta legal secara hukum. Mereka adalah orang yang masih berada dalam jalur yang benar mesiki kondisi sangat mendesak. Berapa banyak yang terpaksa menggadaikan harga diri dan mengambil jalan pintas. Terbuka peluang yang sangat luas bagi mereka untuk melakukan hal yang keliru (secara moral dan hukum) yang berpotensi mendapatkan materi yang lebih besar tanpa perlu bersusah payah. Namun hal itu tidak dilakukan.

Lesson learned: Mari introspeksi diri sendiri, apakah kita sekuat dan seteguh mereka. Apakah kita telah bersyukur seperti mereka. Sepantasnyalah kita angkat topi kepada mereka.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: