Apa Labelmu?

23 04 2012

Suatu saat saya diajak salah satu teman ke sebuah mall di ibukota untuk sekedar jalan-jalan, mencuci mata.  Dengan  menggunakan mobil yang dikemudikan teman, saya bisa dengan leluasa melihat-lihat suasana jalan-jalan yang kami lalui. Iseng-iseng saya memperhatikan bagian belakang beberapa kendaraan. Terlihat beberapa sticker menempel di kaca belakang. Mulai dari sticker suatu sekolah/universitas, kursus bahasa, tempat rekreasi yang terkenal, atau sticker logo / merek suatu produk ternama.

Image

Gambar-gambar logo merek terkenal yang menurut situs inminds.co.uk masuk dalam daftar boikot karena ditengarai membantu keuangan pemerintahan zionis Israel.

Kita memang sudah sangat familiar dengan logo / merek yang bertebaran di kehidupan kita. Merek tersebut bahkan telah menjadi penghias kita. Mulai dari merek pakaian, gadget, kendaraan, logo perusahaan terkenal, kacamata dan sebagainya.Tidak dapat kita pungkiri, kadang kita begitu memperhatikan merek tersebut. Misalnya apa merek pakaian yang kita pakai, apa handphone yang ada di genggaman tangan kita dan sebagainya. Jika kita sedang memakai produk yang telah diakui kualitasnya maka kita akan lebih mantap memakainya.

Namun hal itu akan kurang bagus jika kita cenderung ingin menunjukkan merek dan logo tersebut kepada orang lain dengan niat pamer. Mungkin dengan memakai produk tersebut kita akan mendapatkan manfaat yang benar-benar berkualitas, namun tak sering pula kita hanya ingin dilihat sebagai orang yang mampu memiliki barang tersebut. Kita berharap diakui sebagai komunitas pengguna merek tersebut yang di dalamnya terdapat citra tak terpisahkan.  Citra tersebut misalnya: orang kaya, kaum intelek, orang berpendidikan, orang yang bercita rasa seni yang tinggi dan seterusnya.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa merek tersebut menjadi label agar kita dikenal sebagai kelompok tertentu. Parahnya, masyarakat kita yang cenderung materialistis sepakat dengan hal ini. Maka tak salah jika kita berbondong-bondong untuk memburunya. Sekali lagi jika kita hanya bertujuan untuk pamer maka hal itu hanyalah untuk kepentingan pencitraan diri kita.

Pentingkah pencitraan dan pelabelan diri kita? Sebagai orang Islam hendaknya sadar bahwa satu-satunya label yang hanya pantas dikenakan adalah sebagai orang yang bertakwa. Takwa adalah parameter kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. Seorang muslim tidak seharusnya bersusah payah mencari pujian dan pengakuan dari orang-orang sekitar. Satu-satunya yang diharapkan adalah pengakuan kemuliaan di hadapan Allah SWT, dan labelnya adalah takwa. Kerahkan semua tenaga hanya untuk mendapatkan pengakuan di hadapan Allah SWT, jangan pedulikan komentar kanan kiri.


Aksi

Information

2 responses

2 05 2012
3 05 2012
ki demang

Terima kasih telah sudi mampir, salam kenal. Semoga sukses selalu untuk Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: